A. PERAN TEKNOLOGI DALAM INOVASI PENDIDIKAN
Menurut Yakub dan Vico Hisbanarto, peranan teknologi dalam inovasi pendidikan antara lain teknologi sebagai gudang ilmu pengetahuan, alat bantu pembelajaran, fasilitas pendidikan, standar kompetensi, penunjang administrasi pendidikan, dan infrastruktur pendidikan.
1. Teknologi Sebagai Gudang Ilmu Pengetahu Kurikulum yang disusun dan dikembangkan harus memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan terkini. Selain itu, konten yang berkualitas dan terbaru harus pula dihadirkan dalam setiap mata ajar yang diselenggarakan. Pemanfaatan teknologi diharapkan bagi setiap pendidikan akan mudah menjelajah dan mengakses berbagai gudang ilmu pengetahuan guna mendapatkan konten terbaik yang diinginkan. Pemanfaatan teknologi sebagai pintu gerbang dalam memasuki dan mengakses dunia ilmu pengetahuan secara global dan terkini.
2. Teknologi Sebagai Alat Bantu Pembelajaran
Kurikulum berbasis kompetensi menuntut adanya kreativitas belajar pendidik sebagai fasilitator dalam memilih pendekatan belajar mengajar yang efektif. Konsep pembelajaran secara interaktif perlu ditunjang dengan alat bantu atau media pembelajaran yang memadai. Teknologi sebagai alat bantu pembelajaran, karena peserta didik yang akan secara langsung aktif menggunakannya sebagai fasilitas dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari.
3. Teknologi Sebagai Fasilitas Pendidikan
Organisasi pendidikan yang baik pasti membutuhkan sejumlah fasilitas yang handal seperti; ruang kelas, laboratorium, dan perpustakaan. Adanya teknologi organisasi pendidikan akan mendapatkan manfaat yang luar biasa, karena dalam waktu singkat dapat terkoneksi secara cepat dan murah. Seorang pendidik dengan mudah mengakses laboratorium virtual berbagai organisasi pendidikan melalui internet. Kenyataan ini akan membawa tuntutan tersendiri bagi peserta didik kepada organisasi pendidikan untuk menyediakan teknologi sebagai fasilitas pendidikan yang standar sehari-hari.
4. Teknologi Sebagai Standar Kompetensi
Pemanfaatan teknologi dapat terlaksana dengan baik apabila para pendidik dan peserta didik memiliki kompetensi, keahlian, dan ketrampilan menggunakan teknologi. Oleh karena itu semua harus memiliki standar kompetensi tertentu dalam bidang teknologi. Seorang pendidik harus mampu mengoperasikan aplikasi pengolah kata, statistik, analisa data, dokumen elektronik, dan sebagainya. Agar keberadaan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal, maka organisasi pendidikan mengangkat pendidik dengan kompetensi dan keahlian yang sesuai dengan kebutuhan.
5. Teknologi Informasi Sebagai Penunjang Administrasi
Untuk mengelola peserta didik dan pendidik secara efektif dibutuhkan sistem informasi terpadu. Sistem ini tidak hanya berfungsi mengelola administrasi pendidik dan peserta didik saja, tetapi juga untuk membantu berbagai proses dan aktivitas belajar-mengajar; mulai dari pengaturan kelas, pencatatan nilai, absensi peserta didik, materi, kurikulum, kegiatan ektrakurikuler, dan pelacakam alumni. Interaksi belajar mengajar sehari hari antara pendidik dan peserta didik dibutuhkan karyawan sebagai sumber daya pendukung proses administrasi dan operasional sehari-hari pendidikan.
6. Teknologi Informasi Sebagai Infrastruktur
Infrastruktur adalah hal yang fundamental dan wajib dimiliki oleh sebuah entitas untuk dapat berkembang. Untuk membentuk sebuah komunitas masyarakat berbasis informasi dan pengetahuan yang baik, teknologi harus dianggap sebagai salah satu infrastruktur pendidikan. Artinya, organisasi pendidikan harus mengalokasikan sejumlah sumber daya yang dimiliki untuk diinvestasikan dalam membangun kebutuhan yang wajib terutama dalam hal jaringan koneksi dengan internet, sistem berbasis komputer, dan aplikasi pendidikan lainnya.
B. BENTUK INOVASI PENDIDIKAN BERBASIS TEKNOLOGI (E-LEARNING)
Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap mukatetapi juga dengan menggunakan media-media yang ada. Dengan adanya teknologi sekarang ini guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.
Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses psengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin populer saat ini ialah e-learning yaitu suatu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi khususnya internet. E-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang berlandaskan tigas kriteria yaitu: E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi.
Menurut Deni Darmawan, E-learning merupakan salah satu pemikiran dalam upaya mengintegrasikan proses pembelajaran dari pembelajaran dari pembelajaran tradisional, pembelajaran jarak jauh dan perpaduan berbagai model pembelajaran lainnya (blended learning).
1. Traditional Learning
Pembelajaran yang umum dan banyak dilakukan dalam lembaga-lembaga pendidikan, dimana proses pembelajaran dan interaksinya cenderung banyak melibatkan guru, siswa, media dan sumber belajar buku cetak, serta dukungan peralatan dan sarana dan prasarana standar untuk melayani pembelajaran peserta didiknya.
2. Distance Learning
Pembelajaran jarak jauh awalnya ditujukan guna penyelenggaraan pelatihan atau training dalam jangka waktu pendek. Perkembangannya berlangsung pesat setelah adanya konsep Teknologi Pembelajaran dimana media dan teknologi penyaluran pesan dalam bentuk komunikasi jarak jauh mampu dilakukan untuk melayani peserta didik.
3. Blended Learning
Model pembelajaran Blended learning ini merupakan kombinasi berbagai model pembelajaran yang ditujukan guna mengoptimalkan proses dan layanan pembelajaran baik jarak jauh, tradisional, bermedia bahkan berbasis komputer. Sebagai contoh, siswa yang belajar di kelas namun memanfaatkan fasilitas bahan ajar online, kemudian dicetak dan download serta dipelajari secara klasikal di dalam kelas, setelah itu mereka diskusi dengan bantuan media cetak, maupun elektronik, bahkan online.
Perkembangan teknologi beberapa tahun belakangan ini sangat berkecepatan tinggi, sehingga dengan perkembangan ini telah mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi, yang tidak lagi terbatas pada informasi surat kabar, audiovisual dan elektronik, tetapi juga sumber-sumber informasi lainnya yang salah satu diantaranya melalui jaringan internet.
Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan, yang pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan materi pendidikan, serta peserta didik itu sendiri. Beberapa bagian unsur ini mendapatkan sentuhan media teknologi, sehingga mencetuskan lahirnya ide tentang E-learning.
C. IMPLEMENTASI TEKNOLOGI DALAM PROSES PEMBELAJARAN (E-LEARNING)
Bagaimana E-learning diimplementasikan? Apakah sistem E-learning yang akan diselenggarakan tersebut sebuah trully electronic learning? Melihat kenyataan di lapangan, walaupun teknologi informasi telah maju dengan sangat pesatnya, ternyata pendidikan yang mengimplementasikan IT-Based Education secara murni masih sulit ditemukan karena masih banyak faktor kendala lain, terutama dari sisi sumber daya manusia dan sarana atau infrastruktur pendukung.
Menurut Soekartawi yang dikutip oleh Deni Darmawan, namun dalam perkembangannya masih dijumpai kendala untuk mengaplikasikan sistem E-learning ini, antara lain:
1) Masih kurangnya kemampuan menggunakan Internet sebagai sumber pembelajaran.
2) Biaya yang dieprlukan masih relatif mahal untuk tahap-tahap awal.
3) Belum memadainya perhatian dari berbagai pihak terhadap pembelajaran melalui Internet.
4) Belum memadainya infrastruktur pendukung untuk daerah-daerah tertentu.
Selain kendala dan hambatan tersebut, kelemahan lain yang dimiliki oleh sistem E-learning ini, yaitu hilangnya nuansa pendidikan yang terjadi antara pendidik dan peserta didik karena yang menjadi unsur uatama dalam E-learning adalah pembelajaran.
Maka kemudian dalam implementasinya, banyak model E-learning yang dikembangkan dan diadopsi ke dalam pendidikan konvensional atau sebaliknya model konvensional diadopsi ke dalam model E-learning.
Secara umum terdapat beberapa hal penting sebagai persyaratan pelaksanaan E-learning, yaitu sebagai berikut:
a. Kegiatan proses pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan.
b. Tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu siswa apabila mengalami kesulitan belajar.
c. Adanya lembaga penyelenggara/pengelola E-learning.
d. Adanya sikap positif dari siswa dan tenaga pendidik terhadap teknologi komputer dan internet.
e. Tersedianya rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh siswa.
f. Adanya sistem evaluasi terhadap kemajuan belajar peserta didik dan mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.
Pada pihak lain disebutkan bahwa pembelajaran E-learning merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya.
Melalui E-learning materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan dari mana saja. Disamping itu karena materi dapat diperkaya dengan berbagai sumber belajar termasuk multimedia dan dengan cepat dapat diperbarui oleh pengajar, maka pembelajaran biologi dapat juga memanfaatkan keunggulan E-learning ini.
Fleksibilitas menjadi kata kunci dalam sistem E-learning. Peserta didik menjadi sangat fleksibel dalam memilih waktu dan tempat belajar karena mereka tidak harus datang di suatu tempat dan waktu tertentu. Dilain pihak, pendidik dapat memperbaharui materi pembelajarannya kapan saja dan dari mana saja. Dari segi isi, materi pembelajarannya dapat dibuat sangat fleksibel mulai dari bahan ajar yang berbasis teks sampai materi pembelajaran yang sarat dengan komponen multimedia. Namun demikian kualitas pembelajaran dengan E-elarning pun juga sangat fleksibel atau variatif, yakni bisa lebih jelek atau lebih baik dari sistem pembelajaran tatap muka (konvensional). Untuk mendapatkan sistem E-learning yang baik diperlukan perancangan yang baik pula.
Sistem E-learning dapat diterapkan dalam bentuk asychronous, sychronous atau campuran antara keduanya. Contoh E-learning asychronous banyak dijumpai di Internet baik yang sederhana maupun yang terpadu melalui portal E-learning. Sedangkan dalam E-learning sychronous, pendidik dan peserta didik harus berada di depan komputer secara bersama-sama karena proses pembelajaran dilaksanakan secara live, baik melalui video maupun audio conference. Selanjutnya dikenal pula istilah blended learning yakni pembelajaran yang menggabungkan semua bntuk pembelajaran misalnya on-line, live, maupun tatap muka (konvensional).
D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SISTEM PENDIDIKAN BERBASIS TEKNOLOGI (E-LEARNING)
1. Kelebihan Pembelajaran Berbasis E-learning
Menurut Rusman, ada lima kelebihan pembelajaran berbasis E-learning yaitu:
a. Access is available anytime, anywhere, around the globe (Akses tersedia kapan pun, di mana pun, di seluruh dunia)
Internet telah menjadi sebuah sarana komunikasi 2 arah yang sangat banyak digunakan. Kini seorang peserta didik memiliki akses yang sangat besar terhadap informasi apa pun, termaksud informasi pembelajaran. Melalui koneksi internet pada laptopnya, komputernya, telepon genggamnya, atau koneksi internet sarana-sarana umum, siswa bisa mengakses program pembelajaran, mengerjakan tugas, mengikuti informasi perkembangan materi Pembelajaran, berkomunikasi dan berdiskusi dengan guru/peserta didik lainnya, memeriksa nilai, memeriksa absensi dan melakukan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran berbasis web, semuanya dilakukan secara online.
b. Per-student equipment costs are affordable (Biaya operasional setiap siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran menjadi lebih terjangkau).
Bila dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran secara konvensional, kegiatan pembelajaran berbasis web mengeluarkan biaya operasional yang lebih terjangku bagi peserta didiknya. Salah satu faktor penyebabnya adalah biaya koneksi internet yang semakin murah. Dewasa ini, hampir setiap piranti bergerak seperti telepon seluler sudah dilengkapi aplikasi browser yang dapat digunakan untuk mengakses internet. Fasilitas-fasilitas internet umum seperti warnet pun sudah menjamur di mana-mana. Melalui kegiatan pembelajaran berbasis web, siswa tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos transportasi yang besar ataupun biaya penunjang pendidikan yang akan lebih mahal bila dibandingkan dengan pembelajaran secara online melalui web based instruction ini.
c. Student tracking is made easy (Pengawasan terhadap perkembangan siswa jadi lebih mudah).
Melalui pembelajaran berbasis web, segala aktivitas pembelajaran siswa akan dicatat dalam sebuah database yang tersimpan di server. Administrator, guru, orang tua murid dan murid itu sendiri dapat melihat data-data akademik seperti program pembelajaran yang telah diikuti murid, tugas-tugas yang harus dikerjakannya, nilainya pada mata pelajaran tertentu, nilainya secara akumulatif, catatan kegiatan diskusinya serta data-data lainnya. Hal akes terhadap informasi akademik ini tentunya bisa diatur sesuai kebutuhan. Misalnya, pihak yang berhak untuk melihat nilai akumulatif siswa hanyalah guru/orang tua muris saja, sedangkan murid hanya bisa mengakses nilainya terakhir saja.
d. Possible "learning object" architecture supports on demand personalized learning (Rancangan pembelajaran berbasis web memungkinkan dilakukannya kegiatan pembelajaran yang sudah terpersonalisasi).
Dengan pembelajaran berbasis web, secara virtual tidak ada batasan untuk materi pembelajaran. Hal ini memungkinkan materi pembelajaran bisa dipersonalisasi sesuai kebutuhan kegiatan pembelajaran. Misalnya, untuk menerangkan materi tentang orbit planet-planet di tata surya, uru tidak hanya memberikan materi lewat tulisan saja, tapi ia juga bisa menyisipkan media-media pembelajaran seperti animasi atau peta interaktif. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih variatif dan menarik, sehingga pengalaman belajar siswa pun menjadi lebih bermacam-macam, Untuk menunjang penyediaan media pembelajaran dalam pembelajaran berbasis web ini, guru dituntut untuk memiliki skill lain dalam bidang Pengembangan media, misalnya kemampuan olah gambar untuk menyediakan media grafis, atau kemampuan mengembangkan animasi berbasis flash untuk menyediakan media animasi.
e. Contentisealy update (Materi pembelajaran bisa diperbarui secara lebih mudah).
Poin ini mungkin merupakan poin keuntungan terbesar yang bisa didapat dari sebuah pembelajaran berbasis E-learning. Di zaman seperti sekarang ini, di mana ilmu pengetahuan senantiasa berkembang, materi-materi pembelajaran bisa berubah setiap saat. Dalam pembelajaran konvensional yang menggunakan media tercetak atau CD-ROM, meteri pembelajaran tentunya tidak bisa diperbarui dengan mudah, melainkan harus melalui proses revisi, cetak ulang, atau pembuatan ulang. Hal ini tentunya akan memakan biaya yang besar, apalagi bila terdapat banyak jumlah medium yang ingin direvisi. Tapi dalam pembelajaran berbasis Web, materi-materi ajar bisa dengan mudah direvisi oleh guru dengan hanya memodihkasi database di dalam server. Bahkan dengan perencanaan khusus, materi-materi ajar yang sebelumnya pun tetap bisa ditampilkan (contohnya pada sistem “wiki” dalam situs web ensiklopedia “Wikipedia”). Hal ini memberikan keuntungan besar kepada siswa karena menjamin bahwa mereka akan selalu mendapatkan ilmu pengetahuan termutakhir dan bisa mengamati perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini pun memberikan keuntungan kepada guru karena mereka bisa dengan mudah memperbarui, menambah atau merevisi materi ajarnya setiap saat.
Lima manfaat keunggulan utama dari pembelajaran berbasis E-learning yang disebutkan di atas, hanya akan muncul bila pembelajaran berbasis E-learning telah didesain, direncanakan akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Manfaat keunggulan-keunggulan tersebut tentunya tidak akan muncul apabila, misalnya, internet hanya digunakan sebagai media lintuk menyimpan bahan-bahan ajar saja tanpa memperhitungkan aspek intertivitas-nya. Maka dari itu, dalam mengembangkan sebuah pembelajaran berbasis E-learning, guru pengembang E-learning pembelajaran sebaiknya tidak hanya memperhitungkan aspek teknis saja, tetapi juga merencanakan secara matang alur kegiatan pembelajaran dengan memperhitungkan aspek pedagogisnya dan berpatokan juga kepada model-model E-learning yang ada.
2. Kekurangan Pembelajaran Berbasis E-learning
Menurut Rusman kelemahan pembelajaran berbasis E-learning diuraikan sebagai berikut.
Satu kelemahan terbesar dari pembelajaran berbasis E-learning adalah amat kurangnya interaksi langsung antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa. Hal ini berdampak besar kepada siswa, karena walaupun mereka bisa berkomunikasi secara synchoronous melalui live chat atau asynchoronous melalui e-mail/forum diskusi, tetap saja interaksi antarmanusia secara langsung tidak dapat tergantikan.
Satu jalan komunikasi synchoronous yang dipercaya nantinya akan bisa meminimalisir kelemahan pembelajaran berbasis E-learning adalah teknologi videoconferencing. Melalui videoconferencing, siswa dan guru serta siswa dan siswa bisa bertatap muka secara langsung dan berkomunikasi melalui gambar dan suara. Hanya saja dikarenakan kurangnya sarana dan infrastruktur internet yang memadai (terutama di Indonesia), menyebabkan fitur videoconferencing ini tidak dapat terlaksana secara optimal. Audiovisual yang dikirimkan sering kali tidak berkualitas baik. Selain itu terkadang terjadi delay/penundaan yang menyebabkan komunikasi tidak berjalan mulus. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan videoconferencing sama sekali belum bisa menggantikan proses komunikasi langsung antar manusia.
Untuk menanggulangi hal tersebut, sudah ada beberapa pihak yang berusaha untuk membuat teknologi videoconferencing menjadi senyata mungkin, di antaranya dengan memperlebar bandwidth untuk pertukaran data videoconferencing, atau meningkatkan kualitas hardware pendukung videoconferencing. Cisco system sudah menghadirkan solusi untuk hal ini. Perusahaan komunikasi internet Skype-pun sudah mencoba untuk menerapkannya secara luas. Hanya tinggal masalah waktu saja (3-5 tahun) agar teknologi ini bisa menjadi lebih sempurna dan diadopsi oleh masyarakat seluruh dunia.